SejarahTanbih & ToreqatTausiyah


 

Anda pengunjung ke :

 

Khidmat Manaqib


ZIKIR MEDIA ISRO MIíRAJ
Oleh : KH.Zezen Zaenal Abidin Bazul Ashab

Banyak pandangan dan cara yang dilakukan orang ketika bulan Rajab tiba diantaranya; Pertama, ada yang biasa-biasa saja, dia tidak merasa kedatangan bulan yang memiliki makna dan kandungan yang berharga, akibatnya dia tidak pernah malakukan kegiatan dan amaliah yang mampu meningkatkan kualitas ibadah, kelompok ini lebih dikenal dengan kelompok moderat, kedua yang menyambut dengan kegiatan khusus seperti melakukan peringatan Isro Mi’raj (Rajaban). Mereka panggil Kyai, Ustadz, Ajengan untuk menyampaikan tausiah. Namun setelah peringatan tersebut ternyata tidak memberikan perubahan dalam peningkatan amaliah (ibadah), dan ketiga yang menjadikan Rajab sebagai “Pasar Ibadah”. Rajab dijadikan kesempatan untuk memperbanyak amal ibadah seperti shalat-shalat sunnat, puasa sunnat, shadaqah, dan sebagainya. Lalu dimanakah posisi kita (ikhwan TQN Pontren Suryalaya) ? Sebelum menjawab hal itu kita lihat dulu hakikat Rajab itu sendiri.

Rajab di ambil dari kata Tarjiib (Ta’dim) artinya mengagungkan. Bulan Rajab termasuk Asyhuru al-Huruum (bulan yang diagungkan Allah) selain bulan Zulqa’dah, Zulhijjah, dan Muharram. Sejarah mencatat pada bulan Zulqa’dah, Zulhijjah, dan Muharram adalah bulannya peperangan antara umat mukmin dan kafir. Sedangkan Rajab dijadikan Allah sebagai bulan “Genjatan Senjatanya”. Namun saat ini orang-orang Yahudi Rajab tidak lagi mengagungkannya bahkan Yahudi di Libanon dan Palestina sedang membantai umat Islam. Siapakah yang mampu menjadikan Rajab sebagai “Pasar Ibadah”? Meraka adalah orang yang sedang belajar mengamalkan Tarekat Mu’tabaroh (tarekat yang bersumber dari al-Quran dan al-Hadits) dan dibimbing oleh guru Mursyid yang Kamiil wa al-Mukkamiil. dan Insya Allah kita (pengamal TQN Pontren Suryalaya) termasuk bagian dari kelompok ini. Amin.

Ada fenomena menarik yang terjadi di kalangan umat Islam di Indonesia dan patut kita cermati. Secara umum umat Islam memiliki semangat yang lemah dalam ibadah. Hal ini dapat kita lihat dari contoh berikut ini :
Banyak diantara kita (umat Islam) yang lebih senang mendengar penjelasan-penjelasan tentang Islam yang ringan-ringan saja Kita senang jika ada Kyai yang menyampaikan keterangan ayat al-Quran yang mengandung makna Islam itu ringan. Contohnya dalam firman Allah yang artinya : “ setelah melaksanakan shalat wajib maka bertebaranlah kamu sekalian…” Keterangan tersebut mereka pahami sebagai indikasi bahwa Islam adalah ringan. Kita tidak usah banyak zikir setelah shalat, tapi bertebaran mencari rizki. Ditempat lain ditemukan lagi hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah ra. bahwa : “shalat tarawih itu delapan rakaat bukan dua puluh rakaat”, itupun dianggap sebagai petunjuk Islam ringan dan banyak contoh yang lain. Akibat dari pemahaman itu, lahirlah umat Islam yang memiliki semangat ibadah yang lemah. Kecuali itu, ketika melihat ada umat Islam yang rajin dan banyak melakukan ibadah dianggap sesuatu yang bid’ah (tidak ada contoh dari rasulullah SAW), termasuk pandangan terhadap shalat Rajab dan Nisfu Sya’ ban, dianggap ibadah bid’ah.

Secara jujur, sebagai dalil naqi, al-Quran tidak hanya berisi Nas melainkan Isyarah. Seperti dalam berfirman Allah : “ dan minta tolonglah kamu sekalian kepada Allah dengan sabar dan sholat “. Ayat ini mengandung isyarah bahwa ketika kita ditimpa berbagai penyakit, bencana, dan sejenisnya minta tolonglah kepada Allah dengan melaksanakan shalat. Memang tidak ada dalam al-quran yang menyatakan tentang shalat sunat Lidafi’l Balai’, Rajab dan Nisfu Sya’ban. Namun dalam hadits rasulullah yang tertulis dalam kitab al-Ghonyyah Litholibi Thariqi al-Haq karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani q.s. sudah jelas tentang dasar anjuran melaksanakan shalat tersebut. Dalam Ihya ‘Ulum ad-Diin, karya Imam al-Ghazali ra. pun tertulis jelas Jadi bagi ikhwan TQN PP. Suryalaya tidak perlu ragu lagi akan legalitas shalat sunat Rajab dan Nisfu Sya’ban dan shalat-shalat sunnat yang diamalkan di kalangan ikhwan TQN Pontren Suryalaya. Apalagi Syekh Mursyid, Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifn ra sudah lebih mafhun dan memberikan contoh lebih dahulu. Berkaitan dengan Rajab, banyak hikmah yang dapat kita ambil guna mengikuti Isro dan Mi’rajnya rasulullah SAW. salah satunya ialah mengapa yang diberangkatkan itu bukan kita melainkan nabi Muhammad. Jawaban ini tersirat adalam kata LinuriyahuuMin Aayatina yang artinya untuk memperlihatkan kekuasaan Allah. Nabi Muhamad sudah mampu mentafakuri kekuasaan Allah yang ada dibumi ini, oleh karenanya Beliau diangkat Allah melalui peristiwa Isro dan Mi’raj untuk mentafakuri kekuasaan Allah yang belum ditafakurinya. Sementara kita boro-boro mentafakuri yang di sana, kekuasaan di bumi dan yang ada dalam diri kita saja belum mampu kita tafakuri dengan baik. Mengapa rambut kita terus bertambah, dimanakah golongan rambut kita, dan sejumlah pertanyaan yang belum dapat kita jawab, kecuali dengan zikir LAAILAAHAILLALLAH. Zikir media Isro dan Mi’rajnya umat Islam.

Selain itu kata yang digunakan itu dalam ayat Isro Mi’raj, ‘Abdihii bukan bi Muhammadin ? dengan itu Allah mengharapkan kita menjadi hambanya. Kalau kita butuh contoh hamba Allah, Muhamadlah contohnya. Kalau tidak ketemu Muhammad lihatlah ‘Ulama sebagai pewaris para nabi. Pangersa Abah Warosatul Anbiyya, sebab tugas Pagersa Abah menjadi penerus/pewaris nabi. Ada empat syarat untuk menjadi pewaris nabi yaitu : ilman (‘ilmunya), wakaamaalan (kesempuraan dirinya), wa’amalan (pengamalanya) dan watakmiilan (dan upaya penyempurnaan orang lain). Jangan mengaku ‘ulama warosatul ambiyaa kalau belum memiliki empat syarat tersebut. Tugas ulama adalah pewaris bukan disanjung.
‘Abdi berarti pelayanan, sebuah arti yang tidak begitu bergengsi. Namun ketika kata ‘Abdi digabungkan dengan kata Allah menjdi ‘Abdullah / ‘Abdihii yang artinya hamba Allah memiliki makna yang tinggi dan sebuah predikat yang sangat diinginkan manusia yang beriman dan berislam. Muhammad di Isro dan di Mi’rajkan Allah karena beliau sudah menjadi hamba Allah (‘Abdullah). Hikmahnya, kita akan mampu Isro dan Mi’raj kalau sudah menjadi hamba Allah (‘Abdullah). Kita sudah diberi alat (buroq) yang digunakan untuk melakukan Isro Mij’rajnya yaitu zikrullah. Mudah-mudahan kita menjadi hamba Allah yang mampu ber-Isro dan Mi’raj. Amin ya robbal ‘alamin.

KULIAH SUBUH
JALAN MENDEKATKAN DIRI KEPADA ALLAH
Ustadz Yaya Feisal, S.Ag

Hadirnya kita di tempat yang mulia ini dalam rangka mengikuti Manaqib adalah untuk memasrahkan diri kepada Allah Swt. serta meneliti diri sudah sejauh manakah perjalanan ibadah yang sudah kita tempuh. Karena ada 4 lapis alam yang harus kita lalui yaitu Alam Mulki, Alam Malakut, Alam Jabarut dan Alam Lahut. Allah Swt. berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan" (QS. al-Maidah : 35). Mengapa dalam ayat tersebut di atas orang-orang beriman masih dipanggil oleh Allah, mungkin karena imannya hanya kepada Allah saja. Dalam salah satu hadits Rasulullah Saw. bersabda : "Katakanlah oleh kalian : Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah". Jadi tidak hanya cukup menyatakan iman saja tetapi harus diteruskan dengan keistiqomahan.

Selanjutnya, ayat tersebut mengatakan bertaqwalah kepada Allah. Menurut Iman al-Ghazali taqwa itu menyimpan rasa takut kepada Allah. Rasa takut seperti apa? Takut ibadah kita selama di dunia ini tidak diterima oleh Allah, takut ketika nyawa ini berlepas dari raga tidak membawa iman kepada Allah, takut ketika di alam kubur tidak dapat menjawab pertanyaan malaikat Mungkar wal Naqir, takut ketika berada di alam Mahsyar ketika diadakan timbangan amal, ternyata keburukan kita lebih banyak dari kebaikannya.Kapan kita harus merasa takut? Jawabannya adalah sekarang, ketika kita masih berada di dunia ini. Perasaan takut kepada Allah berbeda dengan perasaan takut kepada binatang buas. Jika takut kepada binatang buas, maka kita harus menjauh darinya, tetapi takut kepada Allah adalah dengan mendekati-Nya.

Apakah alat untuk mendekatkan diri kepada Allah? Tidak lain alatnya adalah dzikir karena kata Allah :"Aku dekat kepadamu ketika engkau ingat kepada-Ku". Jadi dekat jauhnya manusia tergantung kepada ingatnya kepada Allah. Hal ini sangat sulit sekali dilakukan, karena kita banyak lupanya daripada ingatnya. Oleh karena itu, ayat tersebut melanjutkan "Carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya". Guru Mursyid itulah sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah. Hendaklah kamu bersama Allah, jika engkau tidak bisa bersama Allah maka bersamalah dengan orang yang sudah bisa bersama dengan Allah. Dzikir Jahar, dzikir Khofi, Khataman dan Manaqiban adalah serangkaian ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Masih pada ayat tersebut : "Dan berjihadlah pada jalan-Nya". Rasa malas harus kita lawan, nafsu harus kita tundukkan supaya tetap bisa melaksanakan amalan Tharekat Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah sesuai dengan bimbingan dan petunjuk dari Guru. Mudah-mudahan dengan keimanan, ketaqwaan, melaksanakan amalan TQN Suryalaya serta berjihad dijalan-Nya kita akan mendapatkan keuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Amin ya Robbal 'Alamin.