SejarahTanbih & ToreqatTausiyah


 

Anda pengunjung ke :

 

Khidmat Manaqib


ORANG YANG BERTAQWA
KH. Moh. Ali Hanafiah Akbar

Sebagian besar, kita belum mengetahui perbedaan ‘Ulama dan Mursyid. Bukalah al-Quran dan lihatlah ayat 1-2 Surat al-Baqoroh. Alqur'an ini tidak ada keraguan sedikitpun didalamnya bagi orang-orang yang bertaqwa. Orang-orang yang bertaqwa itulah yang diberi petunjuk oleh Allah dengan al-Quran ini. Siapakah orang yang bertaqwa itu? Apakah kita termasuk orang yang bertaqwa? yang ada hanyalah sedang belajar bertaqwa. Yang bertaqwa itu adalah guru mursyid kita, oleh karena itu kita baru mempelajari taqwa. Kita hanya diminta untuk mencari, membaca informasi yang ada dalam al-quran itu. Dari guru Mursyid kita ketahui bahwa al-Qur,an itu diturunkan sebagai obat dan penawar, menjadi petunjuk. Jadi yang dititipi oleh Allah yaitu guru Mursyid untuk mengelola al-Quran itu menjadi obat, petunjuk, dan penawar. Dan yang berhak mengelola itu hanyalah orang yang bertaqwa. Kita inilah yang membutuhkan penawar, obat, dan petunjuk. Maka kita harus mencari orang yang bertaqwa itu, ini merupakan informasi awal dalam al-Qur'an. Tanda-tandanya bukan karena orang itu dapat terbang, dapat berjalan di atas air, dll. Tetapi tanda-tandanya itu ia percaya kepada yang ghaib, dan yang paling ghaib itu adalah Allah SWT. Tidak pernah dilalaikannya ingatan Beliau kepada yang ghaib itu (Allah). Secara syari’atnya, Pangersa Abah menjaga sholatnya dan membelanjakan sebagian hartanya itulah sebagian tanda-tanda yang telah digariskan Allah di dalam al-Quran. Inilah yang kita cari dan mari bergabung untuk mengikuti jalan orang-orang yang kembali tadi. Alhamdulillah kita semua di sini berkumpul untuk mengingat Allah SWT., apa yang telah Allah informasikan tadi dalam al-Quran sudah kita temukan bahkan kita sudah mendapatkan petunjuk, pendapat, arahan-arahan yang kita butuhkan.

Mungkin kita semua sudah sering untuk sowan atau silaturrahmi dengan Kiyai. Ada yang ingin bertabarruk, ada juga yang ingin menambah ke ilmuannya. Saya lihat Kiyai-kiyai dan beberapa ‘ulama yang saya datangi memiliki koleksi kitab-kitab yang begitu banyak. Berbeda sekali dengan Pangersa Abah, di Madrasahnya tidak ada kitab. Kitab al-Qur'an dan kitab-kitab lainnya tidak hanya untuk dipamerkan dan dibaca tapi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan ayat-ayat Allah tidak hanya ada dalam al-Quran tapi juga berada di alam semesta dan dalam diri kita sendiri. Untuk melihat semua itu diperlukan kebeningan dan kebersihan hati, kalau tidak maka hati kita akan buta meskipun secara lahiriyah tidak.

Apa gunanya diperlihatkan kebesaran-kebesaran Allah bila matanya masih buta. Kalau disampaikan ayat-ayat kauniyahnya juga sebetulnya ayat-ayat al-quran yang hakiki itu tidak ada gunanya, kenapa karena pendengarannya masih tuli. Maka awalnya dulu dibukakan dulu oleh Pangersa Abah yaitu dengan cara diberi “Talqinudz Dzikri”. Maka dari itu apabila kita telah memperoleh informasi “Dzalikal Kitaabula roiba Fiihi Hudal Lillmuttaqiin” maksudnya bahwa Abah itu termasuk yang dititipkan al-quran, untuk mengelola al-quran maka kita harus menyatakan ingin mendapatkan itu. “Innamaa Yubaayi’uunaka Innama Yubayi’uunal Laaha” harus menyatakan janji setia kepada guru. Kalau kita mungkin tidak dapat menerimanya, insya Allah dengan perjanjian itu kita diberi oleh Pangersa Abah yaitu dibukakan mata hati kita untuk membaca, dan merenungkan kebesaran-kebesaran Allah SWT. Salah satu ayat untuk bahan perenungan kita semua yaitu surat Ali-Imron ayat 190 – 191. Dari ayat tersebut salah satu tanda-tanda kebesaran Allah yaitu dengan silih bergantinya siang dan malam, pergantian siang dan malam itu yang sanggup membacanya itu orang yang sempurna akalnya. Orang yang sempurna akalnya itu berdiri, duduk, dan berbaringnya selalu berdzikir kepada Allah SWT penyempurnaan qolbu untuk dapat membaca tentang kebesaran Allah, sebab kalau kita tidak dapat melihat dan membaca kebesaran Allah melihat, membaca dengan sendirinya kita suka sering membesar-besarkan diri kita dll. Jika kita belum dapat membaca kebesaran itu melihat langsung dengan Nur Ilahi itu pasti sering terjadi walaupun kita sudah mempunyai kajian-kajian yang sudah melekat dalam diri kita sehingga kita terjebak, Dengan demikian bersyukurlah bahwa kita telah dibukakan pendengaran kita, penglihatan kita untuk menjaga (membaca) yang kebetulan kita pada umumnya utamanya dalam membacanya itu.

Itulah salah satu yang saya sampaikan tadi bahwa bedanya cara guru-guru (mursyid) dengan ‘ulama biasa mengajarkannya berbeda. Seperti halnya kita juga melihat, mengetahui bahwa apa yang ditanamkan / yang disampaikan oleh Pangersa Abah sebetulnya telah sesuai dengan persis yang dilakukan awal Rasulullah SAW, sebab pada umumnya kita mendengar bahwa taziah-taziah pada umumnya diberikan itu terlalu tinggi kepada umat sehingga umat-umat itu menjadi bingung dan resah padahal yang disampaikannya itu benar tapi sulit untuk melaksanakan apa yang telah disampaikan. Kajian-kajian itu kadang-kadang terlalu tinggi. Misalnya : Kita sering mendengar tausiyah yang berisi : "Saudara-saudara kita harus bertaqwa kepada Allah SWT, cinta, dan ridho. Dalilnya sudah benar dan penyampaiannya benar tetapi apa mungkin, orang yang menyampaikannya juga belum tentu bisa bertaqwa, ridlo, cinta dll. Kita disuruh untuk mencintai Allah, mana mungkin hal seperti itu akan terjadi, saudara-saudara kita harus sabar! Mana mungkin tenang dan senang pun belum ko bisa sabar. Oleh karena itu kajian-kajian yang disampaikan kepada kita pada umumnya di Masyarakat sudah mengalami kesulitan tanpa dibimbing melalui Thorekat Qodiriyah Naqsabandiyah (TQN), tanpa melalui dzikir kepada Allah itu pasti akan kesulitan. Hampir orang-orang mempelajari bukan mulai dari yang dasar itu dan yang disampaikan itu kebanyakan prestasi-prestasi yang disandang Nabi Muhammad SAW. Seperti ridho, sabar, ikhlash, dll. Hal seperti itu hasil dari pada perilaku amalaiyah Nabi Muhammad SAW. Kadang-kadang kita dituntut untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW tetapi sekaligus dengan kemampuan Nabi, beranjak dari permasalahan itu, maka pantaslah banyak umat Islam yang berputus asa dari Rahmat Allah SWT, ia merasa berat ibadah itu karena yang diminta yakni yang diajarkan dan yang disampaikan selalu prestasinya Nabi serta menganjurkan untuk mengikuti sesuai dengan kemampuan Nabi Muhammad SAW. Padahal Allah memberikan kepada kita sesuai dengan kemampuan kita, bukan dengan kemampuan nabi. Kemampuan yang ada tadi pada diri kita maksimalkan dicoba oleh dzikrullah dituntun diangkat oleh guru mursyid kita. Jadi Walaupun kita ada yang maksimal kita ini, kita tetap memaksimalkan dengan mendekati guru mursyid tadi siap terangkat atau berubah dari yang kurang menjadi cukup, dari tidak yaqin menjadi yaqin.

Di sinilah kira permasalahannya sebab kita lihat Rasulullah SAW pertama kali belajar itu belajar apa? Pertama pelajarannya bukan pelajaran langsung prestasinya bagus, tidak ikhlash, ridho, cinta, dll. Kalau kita diminta untuk mengikuti Rasulullah SAW bukan hasilnya yang kita perhatikan tetapi pertama kali Rasulullah SAW itu belajar apa? Ya …Belajar membaca (Iqro) kemudian suruh bacalah kita, yang pada akhirnya orang pun membaca. Pada hal kita ketahui bahwa Rasulullah diminta untuk membaca tetapi beliau tidak dapat membaca, hal ini berulang sampai tiga kali (3 kali). Kemudian setelah itu Rasulullah SAW didekap oleh Malaikat Jibril dan disebut membaca untuk menyebut Nama Allah SWT. Nah berarti bila sudah menyebut Nama Allah berarti zikir. Zikirlah pelajaran pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW dari Malaikat Jibril, sebab mana dapat kita akan dekat dengan Sang Maha Pencifta (Allah SWT) kalau tidak zikir dulu. Sebab bila Allah tidak diikut sertakan dengan kita semuanya maka tak akan berarti sama sekali. Akulah Allah yang mempunyai ilmu, Aku yang akan menyampaikannya, dan Aku yang akan mengajarkannya serta melimpahkan kepada umat manusia yang beriman kepada-Ku. Bila kamu tidak menyertakan AKU kamu hanyalah segumpal darah yang tiada artinya “Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah”. Maka tepat sekali Pangersa Abah itu mengajarkan kepada kita sampai kita sudah dapat membaca. Semoga amal ibadah kita sampai kita meninggal diterima oleh Allah SWT. Amiin.

KULIAH SUBUH
PRINSIP-PRINSIP DASAR THORIQOH
Drs. H. Dadi Hermawan

Ternyata bahwa amalan kita ini Thorekat Qodiriyyah Naqsabandiyah (TQN) mempunyai prinsif dasar yang harus kita pegang bersama, kalau kita ingin benar-benar diakui muridnya Sulthonu Auliya Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani. Kalau di Negara kita itu ada istilah Pancasila (lima dasar) yang menjadi dasar pegangan hidup bangsa Indonesia. Jauh-jauh sebelumnya dalam ajaran Thorekat Qodiriyah Naqsabandiyah (TQN) ini sebagaimana kalau Pancasila yang syah dan diakui kebenarannya tercantum dalam Undang-undang Dasar 1945 alinea ke-4. Kalau prinsif dasar ajaran TQN ini “Al-Ushuulul Qoodiriyyah Khomsatun” yaitu yang tercantum dalam kitab miftahush shudur. Kita saling mengingatkan saja, karena hal-hal tersebut sering diucapkan oleh guru-guru kami.

Apa itu prinsif dasar yang harus dipegang bagi orang pengamal TQN ini :
1. ‘Uluwwu Himmah yaitu bagi seseorang pengamal TQN harus mempunyai cita-cita yang tinggi.
2. Hifdul Hurmah yaitu Dia pengamal itu harus menjaga kehormatannya.
3. Husnul Hidmah yaitu Pengamal harus melayani dengan baik
4. Nufudul ‘Uzmah yaitu Pengamal harus melaksanakan keputusan / mempunyai tekad yang kuat.
5. Wata’dhimul Nikmah yaitu Pengamal harus selalu megagungkan nimat yang diberikan kepada kita sekalian.
Amalan-amalan kita ini mempunyai lima (05) dasar :

1. ‘Uluwwu Himmah yaitu bahwa seseorang pengamal TQN harus mempunyai cita-cita yang tinggi, apalah artinya cita-cita yang tinggi? Apakah cita-cita yang tinggi ini seorang pengamal TQN harus mempunyai cita-cita ingin mempunyai harta yang banyak, jabatan tinggi, ingin dihargai, dll. Bukanlah kesana maksud dan tujuannya tetapi yang dinamakan ‘uluwwu himmah itu adalah bagi seorang pengamal mempunyai cita-cita tinggi yang selalu ingin dekat dengan Allah SWT.

Punya cita-citakah kita ingin selalu dekat dengan Allah SWT?tentunya dengan melaksanakan amalan-amalan seperti ini (Manaqiban, khotaman, dll) tiada lain maksud dan tujuannya yaitu ingin selalu dekat dengan Allah SWT. Amiin. Tapi ternyata ingin dekat dengan Allah SWT tidak semudah kita membalikkan kedua telapak tangan yang mesti harus melalui perjuangan-perjuangan, proses pengorbanan yang harus kita korbankan serta kita lalui demi untuk dekatnya diri kita dengan Allah SWT. Lalu pengorbanan apa yang dimaksud? Perjuangan apa? Langkah serta proses apa yang harus kita lalui dalam mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. ‘Ulama-‘ulama sufi memberikan penjelasan untuk mencapai hal seperti itu harus melalui proses taubat? Mengapa? Karena proses taubat ini merupakan langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam beribadah kepada Allah SWT dan menginginkan untuk dekat dengan Allah. Karena Allah SWT Maha Suci, maka kitapun sebagai seorang hamba yang menginginkan dekat kepada-Nya harus suci pula. Mana dapat Allah SWT akan didekati oleh kita sebagai seorang hamba yang penuh dengan dosa? Walaupun begitu kita harus tetap berusaha untuk selalu membersihkan diri kita agar dekat dengan Allah SWT, yaitu melalui proses taubat? Mengapa demikian? karena proses tersebut merupakan langkah awal untuk melangkah kepada maqom selanjutnya. Nah maqom-maqom inilah yang harus ditempuh lebih awal bagi seorang pengamal TQN dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Syekh Qusyairi mengatakan bahwa : “At-taubatu awwalu manzili min manaazilis saalikin wa-awwalu maqoomin min maqoomith tholibin”
Imam Ghozali pun mengatakan bahwa : “At-taubatu Miftahush sho’adatiinal muridiina”
Jadi bila kita memperhatikan sabda Syekh Imam Qusyairi dan Imam Al-Ghozali bahwa menurut beliau bahwa langkah pertama yang harus ditempuh oleh kita adalah maqom taubat. Apalagi bila kita merasakan bahwa diri kita telah banyak berbuat dosa baik yang di sadari ataupu tidak disadari pada masa dulu. Lalu hakekatnya dari pada taubat itu adalah “At-Taubatu Nidzamun” penyesalan terhadap apa yang telah kita lakukan walaupun dosa itu relatif kecil.

Ada dua ma’na yang tersirat dari perkataan Imam Qusyairi :
1. Saalikin yaitu orang yang belajar mendekatkan diri kepada Allah SWT.
2. Tholibin yaitu orang yang mencari terhadap keridhoan Allah SWT dengan cara ia mendekatkan diri kepada sang Kholiq (pencifta).
Kalau Imam Ghozali lebih menekankan lagi kepada murid mengapa? Karena murid mempunyai istilah yang istimewa dalam dunia tasawwuf. Rupanya dalam amalan TQN lebih menekankan kepada murid. Lihatlah kepada Tanbih kurang lebih ada lima kali kalimat “murid-murid” ditambah lagi dalam untaian mutiara. Hal tersebut menunjukan bahwa betapa pentingnya sang murid, sudah di mana-mana ada murid pastilah di sana ada guru mursyid yang akan mebimbing dan meneguhkan iman dan taqwa kita sebagai murid kepada Allah SWT.
Cuma yang menjadi permasalahan adalah bagi kita itu adalah apakah kita ini sudah termasuk muridnya atau kah tidak ?
Sayyid Hawa (pensucian Jiwa) ada delapan (08) tanda murid yang baik :

1. Harus senantiasa membersihkan dirinya dari dosa yang pernah ia lakukan baik yang terasa ataupun tidak. Seperti kita mau melaksanakan sholat maka kita harus suci dari pada hadats kecil ataupun besar bila dilihat dari segi fiqhnya. Tidak mungkin orang akan melaksanakan sholat tidak melakukan wudhu terlebih dahulu. Jadi ciri murid yang pertama adalah yang selalu berusaha untuk membersihkan dirinya dari berbagai macam dosa yaitu dengan cara melakukan dzikir jahar dan dzikir khofi.
2. Patuh, tawadhu, ta’at, dan tunduk sepenuhnya kepad guru. Sudahkah diri kita melakukan hal seperti tersebut di atas. Kalau diri kita merasa ingin diakui muridnya maka apapun yang dianjurkan oleh beliau kita harus melaksanakannya walaupun itu berat bila kita laksanakan (secara dzohir), tetapi bila kita rasakan lebih dalam maka di sana terdapat hikmah yang begitu besar yang pada akhirnya kita dapat hidup dengan bahagia.
3. Lebih mendahulukan ilmu untuk mengenal Allah SWT. Kita jangan bertanya dari mana dasar zikir jahar dan khofi itu, dan tidak perlu lagi untuk diperdebatkan. Keyakinan untuk mengikuti guru mursyid.
Jadi itulah maqom yang pertama yaitu taubat.

Pada maqom yang kedua harus ada peningkatan bagi seorang pengamal TQN ini yang dapat menentramkan dan menenangkan hatinya yaitu dengan berprilaku “Juhud”. Jadi maqom juhud ini sebagai reaksi dari kaum matrealistis terutama sesudah shahabat Ali bin Abi Tholib yang ke kholifahannya dilanjutkan oleh Muawwiyah. Dimana beliau ini kehidupannya penuh dengan kemewahan dunia dan seiring dengan perkembangan Islam ke seluruh pelosok dunia. Maqom juhud ini dikembangkan oleh Ibrahim Al-Adham dari tanah Persia, Ja’far Shodik di tanah Medinah. Ternyata paham juhud in artinya orang yang mendahulukan, mementinghkan, juga bersungguh-sungguh untuk mendapatkan kehidupan di akhirat kelak sebab kehidupan dunia ini hanyalah sementara sahaja. Bukan sebagai tujuan utama dan perjalanan kita ini masih panjang tetapi kenapa orang-orang banyak berlomba-lomba untuk mengejar dunia, sehingga kehidupan akhirat nanti terlupakan. Apalah artinya kita hidup bertahun-tahun bila kehidupan kita ini tidak berubah bahkan tambah buruk dihadapan Allah SWT.

Kehidupan di akhirat nanti lebih bermakna daripada kehidupan di dunia fana ini. Saya mengucapkan syukur alhamdulillah telah melihat setiap bulannya para zahid-zahid ini orang yang selalu bersungguh-sungguh mengharapkan ridho Allah SWT tiada henti-hentinya dengan tidak memandang situasi dan kondisi yang ada.