SejarahTanbih & ToreqatTausiyah


 

Anda pengunjung ke :

 

Khidmat Manaqib


TINGKATAN PUASA
Oleh : KH. M. Zein ZA. Bazul Asyhab

Imsak artinya menahan. Jadi tidak salah kalau ada orang yang berkata "imsak, imsak" di siang hari. Artinya tahan-tahan. Karena secara syariat puasa artinya menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh di waktu siang. Mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Puasa ini disebut juga puasa umum.

Selain puasa syariat ada juga yang dinamakan puasa tharekat. Yaitu menahan seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan yang diharamkan dan dilarang juga untuk menjauhi sifat-sifat tercela, seperti ujub dan sebagainya lahir dan bathin siang maupun malam. Puasa ini dilakukan selama hidup. Jika mata melihat hal-hal yang dilarang oleh agama atau lidah kita membicarakan kejelekan-kejelekan orang lain maka batallah puasanya. Karena tidak banyak yang mampu melakukan ini sebut saja ini puasa khusus.

Dan puasa khususil khusus adalah puasa hakikat yaitu menjaga hati dari selain Allah dan menjaga rasa agar tidak mencintai selain Allah. Puasa yang disebutkan terakhir ini sangat sulit sekali dilakukan. Karena jika hati mengingat yang lain selain Allah atau hati terjatuh pada mencintai selain Allah maka batallah puasanya dan ia harus melakukan qadha dengan kembali mencintai Allah.

Sebagai Ikhwan TQN harus belajar menjalani ketiga macam puasa tersebut. Mungkin ada sebagian orang yang berkata puasa khusus hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Tidak! Kita pun Insya Allah bisa melaksanakannya. Karena dengan dzikir Jahar kita akan mampu membendung godaan syetan yag datang dari luar. Dan dzikir Khofi yang akan mampu membendung godaan hawa nafsu yang datang dari dalam diri kita masing-masing.

(Sementara itu, KH. M. Abdul Gaos SM. dalam kesempatan yang kedua menyampaikan) :

Kita harus melihat bagaimana Guru Mursyid dalam melaksanakan Manaqib, dan hal ini harus dicontoh oleh Ikhwan. Manaqib itu diakhiri dengan pembacaan Sholawat Bani Hasyim tiga kali. Maka sebelum selesai membacakannya janganlah beranjak dari tempat duduk. Sekarang kita bisa melihat bagaimana Guru Mursyid dalam hal ini. Karena Beliau hadir ditengah-tengah kita saat ini. Kita harus meyakini, bahwa dalam setiap manaqib Guru itu hadir. Dan harus menjaga adab. Jangan sekali-kali meninggalkan manaqib sebelum selesai ditutup dengan pembacaan sholawat Bani Hasyim.