SejarahTanbih & ToreqatTausiyah


 

Anda pengunjung ke :

 

Khidmat Manaqib


KENAPA HARUS KE PANGERSA ABAH
Oleh : KH.Drs. Jujun Junaedi


Kita semua termasuk yang dari Malaysia dan Singapura datang ke Pondok Pesantren Suryalaya atas kehendak Allah dan tidak diundang Pangersa Abah. Kita hadir ke sini dikarenakan sangat membutuhkan barokahnya. Oleh karena itu walaupun dari Malaysia dan Singapura terasa dekat karena kebutuhan di atas. Sebaliknya banyak juga orang dekat terasa jauh akibat tidak ada kebutuhan terhadap barokah tadi.
Hal demikian sudah ada sejak jaman Nabinya, dimana ajaran Islam menyebar ke berbagai pelosok tetapi pamannya sendiri tidak mau mengikutinya, bahkan sampai waktu kematiannya, Nabi Muhammad SAW tidak berhak untuk memberinya hidayah. Sebagaimana ditegaskan Allah : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (Al-Qashash :56).

Kita beruntung hadir kesini atas kehendak Allah SWT. Mengapa datang ke sini ? dan mengapa harus ke Pangersa Abah ? Padahal banyak Kyai atau pesantren yang lebih bagus seperti di Bandung dan di tempat lain. Itulah keunikannya, banyak orang sekarang yang merasa “sok tahu”, padahal kita sangat membutuhkan petunjuk dan orang yang menunjukkannya. Tentunya orang yang menunjukkan adalah orang yang sudah tahu, bahkan mungkin orang sana yang datang ke sini yang disebut Mursyid.

Ibarat ada 2 orang yang satu ingin pergi dari Tasik ke Cianjur dan yang satu lagi ingin pergi sari Tasik ke Bandung. Lalu berangkatlah orang yang ingin ke Cianjur itu bersama seorang penunjuk jalan yang sudah tahu Cianjur bahkan berasal dari Cianjur. Sedangkan orang yang ingin pergi ke Bandung pergi sendirian tanpa petunjuk jalan, padahal baru pertama akan pergi ke Bandung serta tidak tahu sama sekali tentang Bandung. Dari kedua orang diatas mana yang paling cepat sampai tujuan ? tentu orang yang pergi ke Cianjur, sehingga tidak perlu banyak bertanya dijalannya dan tidak mungkin kesasar. Sebaliknya orang yang pergi ke Bandung yang pergi sendirian dan tidak tahu jalan malah kesasar.
Ternyata orang yang ke Bandung itu ingin pergi ke Alun-alun Bandung. Tetapi kesasar malah pergi ke Gasibu. Begitu sampai di lapangan Gasibu dia berkata : “Ini dia sudah sampai di alun-alun Bandung”, padahal bukan. Lalu ada orang yang mengingatkan bahwa alun-alun Bandung itu bukan disini, terus ditunjukkan jalan ke alun-alun Bandung depan Masjid, malah berkata : “Bohong ini ! masa alun-alun tidak ada lapangannya dan malah dipenuhi toko-toko ? Demikianlah gambaran orang hidup di dunia tanpa Guru Mursyid.

Banyak orang bertanya mengapa ke Pondok Pesantren Suryalaya? Padahal banyak pesantren yang lebih besar dan lebih terkenal. Sebenarnya kita pergi ke Pondok Pesantren Suryalaya ini tujuannya adalah ingin diakui murid oleh Pangersa Abah, dimana Beliau sendiri sebagai Mursyidnya. Dan kita kesini (Pondok Pesantren Suryalaya) ingin belajar Tarekat yang selama ini oleh para penjajah dibiaskan serta dipisah-pisahkan dalam kehidupan Bangsa Indonesia.
Islam asalnya bulat, tetapi begitu datang ke Indonesia tidak bulat lagi akibat para penjajah. Islam yang benar adalah terdiri dari Iman, Islam dan Ihsan. Iman dipelajari dalam Ilmu Tauhid (Aqoid), Islam dipelajari dalam Ilmu Fiqh, dan Ihsan dipelajari dalam Ilmu Tasawuf.

Maka apabila kita mempelajari Tauhid, pasti akan menemukan Firqoh, dan apabila mempelajari Fiqh akan menemukan madzhab. Begitu juga apabila mempelajari Tasawuf, pasti akan menemukan Thariqot (tarekat). Sebenarnya kita itu baru bicara : “Biar terpetik hasilnya dan diambil buahnya”. Seharusnya diteruskan dimakan itu buahnya biar terasa nikmatnya.
Maka di Pondok Pesantren Suryalaya bukan sekedar untuk mengisi kepada, tetapi yang lebih penting mengisi hati. Seperti dalam sholat : bacaannya Fasih, apakah sudah merasakan nikmatnya Shalat ? sudahkan kita merasakan nikmat dikala berkumandang Adzan ? lalu diaplikasikan dalam tindakan dengan langsung ke masjid. Bahkan di Pondok Pesantren Suryalaya diajarkan dan dicontohkan oleh Guru Mursyid sebelum berkumandang adzan sudah siap dan duduk ditempat sujud. Inilah bedanya, dimana sebelum ke Pondok Pesantren Suryalaya setelah adzan itu lalu mengumandangkan sholawat sambil menunggu Sang Imam (Kyai) datang ke mesjid atau menunggu orang yang sedang shalat sunat. Sehingga melaksanakan sholat wajibnya diakhir waktu.

Seorang Guru Mursyid telah mengajarkan agar kita siap menghadap Allah sebelum waktunya datang. Hal ini sebagai tanda bahwa kita telah siap tatap muka dan ridho serta tunduk terhadap aturan Allah, yang dibuktikan dengan perbuatan. Karena Allah sendiri telah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk bershalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) itu dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali”. (An-Nisa : 142).

Apakah kita termasuk diantara mereka (munafik) ? ketika mendengar adzan, malah berkata :”Ah gila ! sedang asyiknya Adzan”. Mengapa mereka berbuat seperti itu ? kata Allah karena mereka hanya berdzikir kepada Allah sedikit sekali. Mengapa mereka berdzikir sedikit kepada Allah? Karena mereka hanya mengandalkan dzikir dengan lisannya saja. Dzikirnya hanya didalam mesjid, begitu keluar dari mesjid otomatis berhenti dzikirnya. Padahal Allah SWT telah menyuruh kita untuk terue menerus dzikir kepada-Nya dalam keadaan apapun. Allah berfirman dalam surat Ali Imron : 191 : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaanlangit dan bumi (seraya berkata) : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau meciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami darisiksa neraka”.

Dalam ayat diatas Allah menyebut dengan gelar Ulil Albab, yaitu para ilmuwan yang selalu berdzikir kepada Allah. Kerena berpikir tanpa diikuti berdzikir akan “ngaco”, sehingga banyak dari para ilmuwan itu tidak memberikan manfaat banyak dalam kehidupan. Itulah sebabnya, motto IAILM adalah “Ilmu Amaliyah-Amal Ilmiah”. Ilmu tanpa amal tidak memberikan manfaat.
Lebih penting lagi bahwa tidak ada jaminan bagi orang pintar masuk surga. Berbeda kepada orang yang selalu berdzikir kepada Allah sudah dijamin masuk surga. Maka orang bodoh mau beramal lebih baik daripada orang pintar tidak mau beramal. Akan tetapi kalau merasa bodoh jangan diam saja, harusnya mau bertanya dan belajar. Adapun bisa tidaknya itu urusan Allah.

Bagaimana agar bisa berdzikir yang tidak pernah berhenti? Ilmulah sebenarnya jawaban mengapa kita harus pergi ke Pangersa Abah, di Pondok Pesantren Suryalaya bisa menemukan dzikir yang bisa dibawa kemana-mana : dibawa ke WC? Kalau tidak pergi ke Pondok Pesantren Suryalaya kita tidak tahu. Padahal seandainya ketika di dalam WC itu datang kematian, tentu akan merugi kalau tidak sedang berdzikir kepada Allah. Maka Allah menegaskan : “Sembahlah (beribadahlah) kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu ajal (kematian)”. (Al Hijr : 99).
Tujuan hidup kita tidak lain : “Ya Tuhanku Hanya Engkaulah yang kumaksud, dan keridhoan-Mulah yang kucari. Berilah aku kemampuan untuk mencintai dan ma’rifat kepada-Mu”.

Jangan sekali-kali kita berjalan dari makhluk ke makhluk, tetapi berjalanlah dari makhluk kepada yang menciptakan makhluk. Lebih tegas lagi dalam surat Al-Kahfi : 17 disebutkan : “Dan yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tak akan mendapatkan Wali Mursyid yang memberi petunjuk”.

Kita tinggal mengamalkannya, karena wali Mursyid telah menunjukkan jalan dan telah memberi alatnya. Barang siapa lagi yang akan dijadikan figur selain Beliau ?