SejarahTanbih & ToreqatTausiyah


 

Anda pengunjung ke :

 

Khidmat Manaqib


AMALIYAH TQN..., AMALKAN SAJA!
Ustadz Haji Ali Mohamed

Kira-kira sudah 25 tahun saya belajar tentang Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah dari Pangersa Abah Anom dan mengamalkannya. Dari waktu tersebut, sudah banyak rintangan, cobaan, hambatan yang pernah saya alami. Tapi, alhamdulillah, berkat karomah Pangersa Abah, saya dapat melewatinya dengan penuh kesabaran sambil terus melaksanakan amaliah TQN berupa Dzikrullah, khataman, manaqiban, mengamalkan Tanbih dalam kehidupan sehari-hari dan lain-lain. Tentu saja semua itu harus diiringi dengan kekuatan iman, keikhlasan, keyakinan dan kesabaran seperti sabarnya Nabi Ayub As.

Pertama : Kalimat Laa ilaaha Ilallah (dzikir Jahar yang kita amalkan), pada mulanya diletakkan oleh Allah (tertulis) pada tiang tiang 'Arsy dan tidak ada satupun makhluk yang diciptakan oleh Allah kecuali ruhnya berdzikir dengan Laa Ilaaha Illallah. Karena kalimat Laa Ilaaha Illallah itu tidak lain merupakan huruf ALIF, LAM, LAM, HA (ALLAHU). Karena itu talqin dzikir (khofi) yang telah diisikan oleh Pangersa Abah atau Wakil Talqin yang telah ditunjuk oleh beliau, merupakan sesuatu perkara yang amat besar. Dalam suatu hadits disebutkan Laqqiinuu mautaakum laa ilaaha illallah. Ajarkanlah orang yang akan (hampir) mati dengan laa ilaaha illallah. Hadits ini jangan diartikan kepada orang yang sedang menghadapi sakaratul maut tapi yang akan mati itu adalah kita sendiri.

Laa ilaaha illallah memberikan kekuatan kepada kita sebagai muslim, laa ilaaha illallah menghubungkan kita langsung kepada Allah, laa ilaaha illallah memfanakan diri kita dari dunia yang akan kita tinggalkan, laa ilaaha illallah yang menjamin diri kita masuk surga, laa ilaaha illallah sebagai kekuatan umat Islam seperti yang diajarkan selama 12 tahun di Mekkah oleh Rasulullah Saw. Bilal bin Rabah telah mencontohkan kepada kita bagaimana kekuatan kalimat tersebut meskipun siksaan-siksaan didapatinya tapi dia tetap berkata, Ahadun, ahad, Allahu, Allah ... Kita harus mempunyai keyakinan yang sempurna dengan kalimat tersebut. Karena banyak yang mengucapkan kalimat tersebut tapi tidak bisa sampai kepada Allah. Sayyidina 'Alipun diajarkan oleh Nabi tentang hal tersebut sebagai suatu cara yang paling dekat, paling cepat, paling mudah, paling unggul untuk dekat kepada Allah. Dzikir inilah sebagai benteng kita untuk menghadapi setiap permasalahan kehidupan dunia. Dengan penuh kesabaran, keimanan, kegungan kalimat ini, hadapilah semua permasalahan itu sehingga timbul kesadaran bahwa kita adalah makhluk dan Allah adalah Khaliq.

Kedua Khatam atau khataman. Sebagai murid, hendaknya tidak perlu bertanya kepada Mursyid tentang amaliyah yang diperintahkan olehnya untuk mengamalkannya. Dzikir, amalkan saja, Khataman, amalkan saja, makaqiban amalkan saja, Tanbih amalkan saja. Kalau kita lihat isi dari khataman tersebut, maka akan tampak bahwa didalamnya terdapat sesuatu perkara dunia yang tersirat tapi tidak tersurat. Misalnya Allahumma yaa qoodiyal Haajaat. Banyak hajat dunia yang ingin kita penuhi, tapi dalam khataman tersebut cukup itu saja yang disampaikan kepada Allah, meskipun pendek tapi penuh dengan makna. Begitulah orang-orang yang telah berma'rifat kepada Allah menyampaikan hajatnya. Tidak perlu kita tambah dengan hal-hal lain. Cukup saja dengan Allahumma yaa qoodiyal Haajaat. Dan seterusnya. Dengan mengamalkan khataman, berarti kita telah menghubungkan diri dengan para nabi, para malaikat, para khulafaur rosyidin, para sholihin, para 'ulama, orang tua kita, kaum muslimin dan lain-lain. Meskipun kalimat-kalimat dalam khataman pendek-pendek, tapi bisa mengadung seribu makna. Karena itu, amalkan saja! Itulah yang saya rasakan selama 25 tahun mengamalkannya. Jangan lupa kuncinya adalah sabar. Insya Allah dengan berkah dzikir dan khataman setiap permasalah hidup yang kita hadapi akan diberikan jalan keluar oleh Allah.

Ketiga Manaqiban. Meskipun didalamnya terdapat bermacam-macam karomah Syekh Abdul Qodur Jailani yang berada diluar kebiasaan manusia, kita harus percaya, jangan agu-ragu, karena itulah karomah. Di dalam al-Qur'anpun bermacam-macam keluarbiasaan dari seorang manusia yang telah dimuliakan oleh Allah bisa kita baca seperti dalam kisah Ashabul Kahfi, kisah Siti Maryam dan lain-lain. Mereka bukanlah Rasul yang diberikan mu'jizat tapi hanya seorang yang telah dimuliakan oleh Allah dengan karomahnya dengan berkahnya. Syekh 'Abdul Qodir Jailani sampai berani mengatakan, barang siapa yang ingin berhubungan denganku, ingin aku sampaikan kepada Allah permohonanmu, maka ucapkanlah : Bismillaahi, 'alaa niyyati sayyidi syekh 'abdul Qodir Jailani. Jauh-jauh kita datang ke Suryalaya ini untuk mengikuti Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani, tidak lain untuk mendapatkan berkah dari Pangersa Abah dan Syekh Abdul Qodir Jailani.

Yakinkanlah, dengan mengamalkan dzikir, khataman, manaqiban dan amal shaleh yang lain baik secara lahiriyah maupun batiniah, maka Allah akan mengabulkan hajat-hajat kita. Amalkan dengan ikhlas dan bersabarlah.


MENCARI KEHIDUPAN DUNIA DAN AKHIRAT
Kuliah Subuh : KH. Drs. Sandisi

Artinya : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. [al-Jumu'ah (62) : 10]. Berkaitan dengan ayat ini, Pangersa Abah mendapati dua kekhawatiran. Kekhawatiran pertama; Setelah seseorang mendapatkan talqin dzikir, dia "asyik" dengan dzikirnya kemudian melupakan kehidupannya di dunia, melupakan tugas dan kewajibannya sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai warga masyarakat, melupakan kehadirannya sebagai manusia di muka bumi ini. Kekhawatiran yang kedua adalah sebaliknya, dia tidak mengamalkan dzikir yang telah diajarkan. Oleh karena itu, mari kita menyeimbangkan antara keduanya; bekerja di dunia dan beramal untuk akhirat. Seperti dalam sebuat hadits dikatakan: Tidak termasuk kebaikan, jika kita mencari kebaikan di dunia tapi melupakan akhirat atau sebaliknya.

Pada ayat di atas, kita diperintahkan untuk shalat. Alhamdulillah, selain shalat secara lahir yang telah di atur oleh ilmu fiqih, kita juga telah diberi tahu tentang shalat secara bathin. Shalat secara lahir ditentukan waktunya; Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya serta shalat sunat lainnya. Sedangkan shalat bathin, tidak ditentukan waktunya. Kapan saja, dimana saja, sedang apa saja, baik dalam keadaan suci ataupun berhadats. Shalat bathin yaitu selalu Ingat Allah di dalam hati (dzikir Khofi) harus terus dilaksanakan. Banyak hadits yang menyinggung masalah shalat ini. Shalat adalah tiangnya agama ... Shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab ... dan lain-lain.

Setelah shalat, kita diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi, ke barat, ke timur, ke utara ke selatan, kemana saja. Carilah karunia yang telah diberikan Allah. Menurut Imam al-Ghozali carilah karunia itu diartikan dengan mencari ilmu. Karena Nabi Muhammad Saw. bersabda: Barang siapa yang menghedaki dunia pakailah ilmu, barang siapa yang menghendaki akhirat pakailah ilmu. Barang siapa yang menghendaki kedua-duanya pakailah ilmu. Pangersa Abah selalu berharap, untuk terus belajar, terus menuntut ilmu, menambah pengetahuan, menambah pengalaman. Coba bandingkan Dua orang Tukang Batu. Yang satu hanyalah seorang tukang batu biasa. Dan yang satu lagi Tukang Batu Luar biasa yaitu seorang dokter yang bertugas mengambil batu ginjal dengan menjalankan operasi. Si Tukang Batu biasa, kerja seharian, mungkin hanya mendapatkan uang beberapa puluhan ribu rupiah saja, tapi seorang tukang batu luar biasa, hanya beberapa menit atau jam, bisa mendapatkan uang yang jauh berbeda. Begitu juga dengan ibadah. Apalah artinya ibadah siang malam tanpa dibarengi dengan ilmu.

Salah satu ilmu yang telah diberikan oleh Pangersa Abah adalah dzikir Khofi. Setiap pekerjaan baik yang kita laksanakan, apabila diiringi dengan ingat kepada Allah, maka dia akan bernilai ibadah, meskipun hanya berolah raga, mengikuti rapat, jalan-jalan dengan keluarga, nonton TV dan sebagainya. Tanpa diiringi dengan ingatan kepada Allah, meskipun shalat di depan Ka'bah, tiadalah artinya. "Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepuk tangan... [al-Anfal (8) : 35]

Oleh karena itu, marilah kita tunaikan shalat, laksanakan tugas sehari-hari disertai dengan dzikrullah (selalu ingat kepada Allah di dalam hati).